LOGIKA
(Pengantar dan Dasar-dasar Logika)
Pendahuluan
Dalam tradisi intelektual Islam manusia didefinisikan sebagai hewan yang berfikir (hayawan natiq). Berfikir logis dan argumentatif merupakan prasyarat dalam pencarian ilmu pengetahuan. Artinya dalam mencari ilmu pengetahuan sesorang harus mengikuti aturan befikir atau hukum-hukum berfikir yang terrangkum dalam ilmu yang disebut logika (mantiq) atau qiyas.
Logika berasal dari logos (Yunani); hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika meruapakn salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu disebut logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan), yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.
Logika merupakan cabang filsafat yang praktis, dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Logika lahir bersama-sama dengan filsafat di Yunani. Dalam memasarkan pikiran dan pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah dengan menunjukkan kesesatan penalaran. Di sisni logika digunakan demi melakukan pembuktian.
Dasar-dasar Logika
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika, sehingga kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan bentuk logisnya, bukan isinya. Logika menjadi alat menganalisis argument (hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis).
Terdapat dua cara berfikir logis yang paling krusial dalam rangka mendapatkan pengetahuan baru yang benar, yaitu:
1. Induksi, sering disebut logika induktif. Yaitu cara berfikir dengan menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Penalaran ini diawali dari kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus dan terbatas, lalu diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Contoh:
(1) setiap mamalia punya sebuah jantung;
(1) setiap mamalia punya sebuah jantung;
(2) semua kuda adalah mamalia;
=> maka (1 dan 2) : setiap kuda punya sebuah jantung
2. Deduksi, sering disebut logika deduktif. Yaitu cara berfikir dari pernyataan yang bersifat umum menuju kepada kesimpulan yang bersifat khusus, sehingga bisa dikatakan sebagai kegiatan berfikir yang berlawanan dengan induksi. Contoh:
(1) kuda Sumba punya sebuah jantung;
(2) kuda Australia punya sebuah jantung;
(4) kuda Amerika punya sebuah jantung;
(5) kuda Inggris punya sebuah jantung;
maka (1 s.d. 5) setiap kuda punya sebuah jantung
====
Referensi
====
Referensi
Terimaksih Pak ilmune jadi tau ttg ilmu Logika. http://makalahmustaqim.blogpsot.com
BalasHapus